Marvelous Valley in Moko

Location : Moko Hills, Bandung, West Java, Indonesia.
Date : March 1, 2014

MOKO #1
Jadi langsung aja, tadi siang saya trekking di sebuah bukit sebelah utara kota Bandung. Bukit ini bernama Moko, cukup terkenal, apalagi sejak ditayangkan di Jalan Jalan Men* episode Bandung. Tahu 'kan dampak popularitas suatu destinasi? Ya betul, it's crowded by people who needs some fresh air. Yah not sure mereka cari udara segar atau apa. Basically mungkin ya. Tapi setelah itu meninggalkan bukit tersebut dengan sampah bertebaran :( ah, mental orang kita.

It was such a pain in my eyes when I arrive and saw rubbish everywhere. Greget bombastis lah. Tempat seindah itu penuh sampah dan sedang dibangun usaha saung atau eatery kecil untuk pengunjung. I disagree with the saung you know, thats cool some of the saungs built by bamboo and pine wood but they started to build a new big building with hard surfaced floor, at the top of the hill -they kidding?
Kembali ke topik. Bukit Moko.


MOKO
Siang tadi, naik motor lah saya dan Marcin menuju bukit Moko.
Masing masing kami mengendarai satu motor, jadi ada dua motor gitu. Bukan ide yang bagus kami mengendarai hanya satu motor, terlebih masing-masing kami  bukan pengendara handal. Hehe. Jalanannya menanjak dan kira kira 50% jalanan hanya berupa susunan bebatuan, licin dan berbahaya untuk berkendara.

Moko, hanya 20menitan dari kota Bandung dengan kecepatan normal. Kami melalui rute Bandung-Moko temuan Marcin. Jadi Marcin ngepoin google maps dan menemukan rute paling dekat-sepi-cepat daripada rute yg digunakan orang pada umumnya. Ya ampun saya ngga nyangka aja deh pokoknya, Moko sedekat itu. Biasanya orang lain akan bilang : akan butuh  satu sampai dua jam. Saya berasa lucky banget saat itu diajakin Marcin.

Agak surprised Marcin mengajak saya pagi-pagi jam 9. Pada umumnya orang mengunjungi Moko pada malam hari, tengah malam paling banyak. Saya pikir bagusnya Moko adalah citylight view nya yang menakjubkan. Jadi apa bagusnya mengunjungi Moko pagi hari? Marcin justru bingung kenapa malam hari rame. Dan keren banget, dia lalu menerangkan, sebenarnya siang hari sepertinya lebih asyik. Ada hutan pinus dibelakang bukit dan dia berpikir akan menyenangkan trekking disana. He was entirely right!!

TREKKING IN THE PINE FOREST
Setiba di Moko, kami makan sebentar untuk mengisi energi. Lalu langsung menuju hutan pinus. Kami putuskan untuk trekking, menelusuri hutan tanpa tujuan, get 'lost'.
Tidak ada jalur untuk jalan kaki, kami mengikuti garis barisan pohon hutan pinus. Create our own path. Awalnya trekking sangat aman, permukaan tanah cukup aman dan hanya ada banyak gundukan tanah dengan pinus, daun pinus, buah pinus, jamur liar dan banyak sarang laba-laba lucu. Marcin berusaha banget tidak merusak sarang laba-laba, while me, uhm...selalu jadi raksasa perusak sarang laba-laba, mata saya cukup rabun. My bad... Next time trekking saya akan pakai kacamata yg bagus deh.

....It's getting fun
Namun semakin jauh kami semakin masuk ke dalam lembah, bukit yang kami lalui mulai curam. Kami tidak lagi berjalan, namun saking curamnya, mungkin dari jauh terlihat seperti dua anak yang kesenengan main perosotan di permukaan tanah gembur. Merosot cepat. Sementara kiri kanan kami penuh semak belukar berduri. Sudah tidak ada jalan lagi, kami masuk lembah dimana pohon pinus sudah tidak beraturan. Tidak ada jalur jalan kaki, atau setidaknya tanda-tanda tempat itu pernah dilalui manusia. 

Foto: Jalur bekas main perosotan Marcin ke bawah. Kemiringan sekitar 45 derajat. Sounds stupid but yeah, our butts ruins the ecosystem, for a while.

Hutan itu lembab dan tidak satupun dari kami perokok, artinya tidak ada korek api. Ya berbahaya memang korek api di hutan pinus, namun setidaknya berjaga-jaga kalau kalau ada lintah. Hutan ini basah dan lembab, kecil kemungkinan adanya ular, tetspi lintah mungkin banyak. Saya ingat betapa sakitnya digigit lintah, ketika lintahnya di cabut paksa dari kaki saya. Semacam taring penghisapnya pasti tertinggal karena patah di dalam bagian kulit. Dan ketika terjebak saat seperti ini korek api bisa menolong, lintah langsung minggir kalau kena panas, tanpa meninggalkan taring. (aduh saya ngga yakin taring atau apa ya, intinya sesuatu yang membuat lintah melekat)
Foto: semak belukar terakhir untuk dilalui. Di depan sebuah lembah menunggu.

Kami terus ngobrol sambil menebas sekitar, menerobos semak belukar. Dan berakhir menapakkan kaki dengan mantap di lembah yang cantik sekali. Sebuah lembah yang memotong dua buah bukit, dengan kata lain kami sedang berada di antara dua bukit di dalam hutan pinus. Seperti sedang berada di dalam sebuah mangkuk raksasa. Lembah itu gelap dengan nuansa merah, cantik. Merah karena tanahnya dipenuhi oleh tumpukan daun pinus yang gugur dan memerah setebal kira-kira 5-20 cm. Di sekitar kami hanya ada pohon pinus, mereka seperti sedang memandangi kami. Mereka senang, sedang dikunjungi. Ada pendatang, mungkin katanya.

Kami lanjutkan sedikit kearah barat, menuju puncak bukit sebelah. Marcin mendahului saya, tiba-tiba dia berseru, 'Aurora! You got to see this!'
Surprisingly kami menemukan sebuah pemandangan menakjubkan. Kami cukup lama di tempat itu, berdecak kagum. Lima menit cukup lama. Apa sih yang kami lihat? Sebuah pemandangan tersembunyi.


Hamparan hutan pinus dilihat dari sudut atas, potongan-potongan pucuk pohon pinus hijau tersusun rapi dilatarbelakangi bukit-bukit dan awan. I have to admit it, that was a beautiful scenery. Saya sering lihat pemandangan sejenis, apalagi Marcin. Tapi pemandangan ini jadi cantik untuk kami, mungkin karena kami tidak expect ada pemandangan bagus disitu. Secara, beberapa menit sebelumnya kami hanya jalan dan ngobrol di dalam hutan pinus yang gelap.

MOKO #3
Demikian Marcin dan saya sangat puas dengan hasil temuan trekking kali ini. Benar-benar refreshing setelah penat di kampus, dan sulit mencari hiburan karena ya hiburan di bandung itu-itu aja, too fancy for me. I think I need a bit of adventorous things to do.

Kami memutuskan untuk kembali ke saung di bukit Moko, tempat kami makan sebelumnya. Karena mulai turun hujan, saya memesan kopi panas. Ketika membayar saya ngga bisa berhenti terkikik geli sekitar 5menitan saat itu, susah. Pasalnya saya lihat ini di loket kasir: 
ngerti ngga? Hahaha
1. Mungkin maksudnya KV. Warung Daweng = KV. WD = Café Warung Daweng
2. Kata berisik harus banget kali ya ditekankan dengan bahasa Sunda 'Gandeng' (aduh beneran ini bikin ngakak)
3. Dan bahkan masih ditekankan, 'Dilarang berteriak-teriak'

Marcin yang kepo abis nanyain saya kenapa tertawa, lalu dia pun ikut tertawa mendengar penjelasan saya. Berikutnya, kami hanya menghabiskan waktu membahas hal-hal lucu dan ironis di Indonesia sambil minum teh dan kopi di saung, dikelilingi empat pasang muda mudi mesra, dan saat itu Marcin sempat menunjuk saya dan berkata : 'Kamu.. Jones' . Saya terdiam, lalu menepuk pundaknya, 'Ngaca dong.'

....dan hujan pun turun semakin deras. hiks.

***







0 comments:

Post a Comment

 

INSTAGRAM

TWITTER

THE AUTHOR

My Photo
         
A former Miss Global Teen Indonesia, Miss Coffee Indonesia for South Sulawesi and Toraja Tourism Ambassador. Coffee drinker and chinese food reviewer for TripAdvisor, currently finishing her study majoring Tourism and also keep travel during her free time. She is involving in some Community Based Tourism sociopreneur project, the recent one is in Dago Pojok, Bandung. She was interviewed on VOI program for Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung and ROI Radio to talk about Couchsurfing in Indonesia. Another appearance on Television was on NBT Channel Thailand for representing Indonesia in ASEAN Plus Three Tourism Student Summit in Bangkok and Pattaya, another appearance was about the partnership between Indonesia and Thailand youth through Foundation for International Human Resources Development (FIHRD) where she take responsibility for the partnership.